Defenisi terapi perilaku
Terapi
perilaku menurut Masters (dalam gunarsa, 2007) sebagai teknik yang mempergunakan
dasar psikologi (khususnya proses belajar) untuk mengubah perilaku seseorang
secara kuantitatif. Perlunya sesuatu perilaku diubah, karena ada malasuai
(maladaptive) yang menyebabkan terganggunya kestabilan pribadinya atau yang
menggangu pertumbuhan dan perkembangannya.
Terapi
perilaku secara formal didefinisikan sebagai penggunaan prinsip dan paradigma
belajar yang ditetapkan secara eksperimental untuk mengatasi perilaku tidak
adaptif (Wolpe, 1982). Dalam prakteknya, apa yang lazim untuk semua terapi
perilaklu adalah penekanan pada analisis perilaku untuk menguji secara
sistematik hipotesis atas mana terapi didasarkan.
Terapi
Perilaku adalah suatu cabang psikoterapi yang secara sempit digambarkan sebagai
penerapan pengkondisian klasik dan operant untuk mengatasi berbagai masalah
klinis, namun secara lebih luas digambarkan sebagai psikologi eksperimental
terapan dalam konteks klinis (Davidson, Neale & Kring, 2006).
Terapi
perilaku secara formal didefinisikan sebagai penggunaan prinsip dan paradigma
belajar yang ditetapkan secara eksperimental untuk mengatasi perilaku tidak
adaptif (Wolpe, 1982). Dalam prakteknya, apa yang lazim untuk semua terapi
perilaku adalah penekanan pada analisis perilaku untuk menguji secara
sistematik hipotesis atas mana terapi didasarkan.
Berdasarkan
beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa terapi perilaku adalah
suatu cara untuk mengubah atau mengatasi perilaku yang tidak adaptif. Biasanya
dilakukan dengan cara operant
conditioning, classical conditioning dan modelling.
Karakteristik terapi perilaku
Menurut Corey (dalam gunarsa, 2007)
karakteristik pendekatan behavior antara lain:
-
Terapi perilaku didasarkan pada hasil
eksperimen yang diperoleh dari pengalaman sistematik dasar-dasar teori belajar
untuk membantu seseorang mengubah perilaku maladaptive.
-
Terapi ini memusatkan terhadap masalah
yang dirasakabn pasien sekarang ini dan terhadap faktor yang mempengaruhi,
sebagai sesuatu yang berlawanan, dimana ada hal-hal yang menentukan dalam
sejarah perkembangan seseorang.
-
Terapi ini menitikberatkan perubahan
perilaku sebagai kriteria utama, sehingga memungkinkan melakukan penilaian
terhadap terapi meskipun proses kognitifnya tidak bisa diabaikan.
-
Terapi perilaku merumuskan tujuan terapi
dalam terminologi kongkret dan objektif, agar memungkinkan dilakukan intervensi
untuk mengulang apa yang dilakukan.
-
Terapi perilaku pada umumnya bersifat pendidikan.
Tujuan terapi perilaku
Tujuan umum terapi tingkah laku adalah
menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah
bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku
yang maladaptif. Jika tingkah laku neurotik learned, maka ia bisa unlearned
(dihapus dari ingatan), dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh.
Sedangkan
tujuan terapi perilaku dengan orientasi ke arah kegiatan konseling, menurut
George & Cristiani (dalam Gunarsa, 2007) adalah :
1)
Mengubah perilaku malasuai (maladaptif)
pada klien.
2)
Membantu klien belajar dalam proses
pengambilan keputusan secara lebih efesien.
3)
Mencegah munculnya masalah dikemudian
hari.
4)
Memecahkan masalah perilaku khusus yang
diminta oleh klien.
5)
Mencapai perubahan perilaku yang dapat
dipakai dalam kegiatan kehidupannya.
Fungsi dan peran terapis
Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif
dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada
pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para kliennya. Terapi tingkah laku
secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis
tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan
yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang baru dan adjustive.
Teknik terapi
perilaku
1) Desensitisasi sistematik dipandang sebagai proses deconditioning atau
counterconditioning. Prosedurnya adalah memasukkan suatu respons yang
bertentangan dengan kecemasan, seperti relaksasi. Individu belajar untuk relaks
dalam situasi yang sebelumnya menimbulkan kecemasan.
2) Flooding adalah prosedur terapi perilaku di mana orang yang ketakutan
memaparkan dirinya sendiri dengan apa yang membuatnya takut, secara nyata atau
khayal, untuk periode waktu yang cukup panjang tanpa kesempatan meloloskan
diri.
3) Penguatan sistematis (systematic reinforcement) didasarkan atas prinsip
operan, yang disertai pemadaman respons yang tidak diharapkan. Pengkondisian
operan disertai pemberian hadiah untuk respons yang diharapkan dan tidak
memberikan hadiah untuk respons yang tidak diharapkan.
4) Pemodelan (modeling) yaitu mencontohkan dengan menggunakan belajar
observasionnal. Cara ini sangat efektif untuk mengatasi ketakutan dan
kecemasan, karena memberikan kesempatan kepada klien untuk mengamati orang lain
mengalami situasi penimbul kecemasan tanpa menjadi terluka. Pemodelan lazimnya
disertai dengan pengulangan perilaku dengan permainan simulasi (role-playing).
5) Regulasi diri melibatkan pemantauan dan pengamatan perilaku diri
sendiri, pengendalian atas kondisi stimulus, dan mengembangkan respons
bertentangan untuk mengubah perilaku maladaptif.
Kasus
Terapi Perilaku
Seorang
mahasiswa berinisial F, sangat takut sekali dengan ondel-ondel. Setiap melihat
sosok ondel-ondel, F selalu ketakutan dan jika bertemu di tengah jalan, dia
pasti langsung berlari. Suatu saat F bertemu ondel-ondel di tengah jalan ketika
dia sedang mengemudikan kendaraan roda empatnya, F kemudian mengencangkan
volume musik di mobilnya karna takut mendengar musik pengiring ondel-ondel
tersebut, F juga sesekali berteriak ketakutan jika semakin dekat dengan
kelompok ondel-ondel dan semakin kencang pula suara F ketika menjerit. F ingin
putar balik menghindari kelompok ondel-ondel tersebut namun keadaan saat itu
kendaraan F sedang berada di jalan yang sempit dan ramai. Akhirnya F terpaksa
melewati kelompok ondel-ondel tersebut dengan mengendarai mobil dengan kencang.
Dari
kasus yang kelompok kami ambil diatas, kasus tersebut dapat ditangani dengan
menggunakan terapi perilaku. Di dalam terapi perilaku memiliki beberapa teknik
yang bertujuan masing-masing sesuai dengan gangguan yang klien derita.
Berdasarkan kasus diatas dalam terapi perilaku dapat digunakan dengan teknik
desentisasi sistematis. Desentisasi sistematis adalah jenis terpai perilaku
yang digunakan dalam bidang psikologis untuk membantu secara efektif mengatasi
fobia dan gangguan kecemasan lainnya. Tujuan dari proses ini adalah bahwa
seorang individu akan belajar untuk menghadapi dan mengatasi fobianya yang
kemudian mampu mengatasi rasa takut dalam fobianya.
Pertama
yang akan dilakukan oleh terapis adalah terapis menganalisis perilaku klien
mengenai ketakutannya pada ondel-ondel. Kemudian terapis menyusun hierarkhi
atau jenjang-jenjang situasi yang menimbulkan ketakutan klien pada ondel-ondel.
Dimana disusun dimulai dari yang kurang hingga yang paling mencemaskan klien. Lalu,
terapis memberi latihan-latihan relaksasi otot-otot yang dimulai dari
lengan hingga otot kaki. Kaki klien diletakkan di atas bantal atau kain wool.
Secara terinci relaksasi otot dimulai dari lengan, kepala, kemudian leher dan
bahu, bagian belakang, perut dan dada, dan kemudian anggota bagian bawah.
Setelah itu, klien diminta membayangkan situasi yang menyenangkannya seperti di
pantai, di tengah taman yang hijau dan lain-lain. Lalu klien disuruh memejamkan
mata, kemudian disuruh membayangkan situasi yang kurang mencemaskan seperti bila
klien sanggup tanpa cemas atau gelisah, berarti situasi tersebut dapat diatasi
klien. Demikian seterusnya hingga ke situasi yang paling mencemaskan. Bila pada
suatu situasi klien merasa cemas/gelisah, terapis meminta klien agar
membayangkan situasi yang menyenangkan tadi untuk menghilangkan rasa
kecemasan/ketakutan yang baru saja terjadi dan terapis menyusun hierarki atau
jenjang kecemasan harus bersama klien, dan konselor menuliskannya pada selembar
kertas.
Daftar
pustaka:
Davidson, G.C.,
Neale, J.M., kring A.M. 2006. Psikologi
Abnormal. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada
Gerald Corey. 2009. Konseling dan Psikoterapi, Refika Aditama, Bandung
Gunarsa, Singgih
D. 2007. Konseling dan Psikoterapi.
Jakarta: Gunung Mulia.
Howland,
Rebecca. 1997. Psikiatri. Alih
Bahasa: R.F Maulany. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Michel Hersen, Encyclopedia of Psychotherapy,
Pacific University, Forest Grove, Oregon. AP.
Windy Dryden, Developments in
Psychotherapy, SAGE Publications Ltd, 2006, London.