Kamis, 21 Januari 2016

Sistem Informasi Psikologi

Dalam rangka untuk memenuhi tugas Sistem Informasi Psikologi, maka kami membuat video yang bertema Psikologi Klinis dengan gejala seperti Phobia dan OCD. alam membuat video ini yaitu untuk membantu dan mengetahui gejala-gejala yang dialami klien, dan kami berusaha agar dapat mengatasi gejala tersebut.

Latar Belakang

Kecemasan bervariasi dari ringan sampai berat. kecemasan yang menimbulkan kepanikan yang berlebihan akan dapat berkembang menjadi gangguan Phobia dan OCD (obsessive compulsive disorder). Menurut penelitian Universitas Trisakti kasus fobia yaitu besarnya antara 9,6-16% dan menepati urutan nomor tiga diantara gangguan kejiwaan setelah penyalahgunaan zat dan depresi. Sedangkan menurut national institute of mental health tahun 2004, sekitar 2,2 juta orang dewasa di amerika (18 tahun atau lebih) mengalami ocd. Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan medikasi dan psikoterapi.


Tujuan

Tujuan kami adalah untuk membantu, mengetahui gejala awal yang anda alami, bagaimana cara menghindari serta mengatasi gangguan fobia dan ocd yang anda alami.
 
Visi

Menjadi biro konsultasi psikologi yang berperan dalam kesehatan mental khususnya psikologi klinis.
 
Misi
  1. Memberikan pelayanan senyaman mungkin kulaitas dalam konsultasi klien.
  2. Menjamin semua kerahasiaan klien dalam bentuk apapun.
  3. Berusaha semaksimal mungkin agar terwujudnya mental yang sehat pada klien.

Untuk dapat melihat stimulasi dari Biro kami mengenai Phobia dan OCD, anda dapat meng-kliknya disini serta dapat melihat web kami untuk keterangan lebih lanjut :)

Jumat, 26 Juni 2015

Terapi Perilaku (Behaviour Therapy)



Defenisi terapi perilaku
Terapi perilaku menurut Masters (dalam gunarsa, 2007) sebagai teknik yang mempergunakan dasar psikologi (khususnya proses belajar) untuk mengubah perilaku seseorang secara kuantitatif. Perlunya sesuatu perilaku diubah, karena ada malasuai (maladaptive) yang menyebabkan terganggunya kestabilan pribadinya atau yang menggangu pertumbuhan dan perkembangannya.
Terapi perilaku secara formal didefinisikan sebagai penggunaan prinsip dan paradigma belajar yang ditetapkan secara eksperimental untuk mengatasi perilaku tidak adaptif (Wolpe, 1982). Dalam prakteknya, apa yang lazim untuk semua terapi perilaklu adalah penekanan pada analisis perilaku untuk menguji secara sistematik hipotesis atas mana terapi didasarkan.
Terapi Perilaku adalah suatu cabang psikoterapi yang secara sempit digambarkan sebagai penerapan pengkondisian klasik dan operant untuk mengatasi berbagai masalah klinis, namun secara lebih luas digambarkan sebagai psikologi eksperimental terapan dalam konteks klinis (Davidson, Neale & Kring, 2006).
Terapi perilaku secara formal didefinisikan sebagai penggunaan prinsip dan paradigma belajar yang ditetapkan secara eksperimental untuk mengatasi perilaku tidak adaptif (Wolpe, 1982). Dalam prakteknya, apa yang lazim untuk semua terapi perilaku adalah penekanan pada analisis perilaku untuk menguji secara sistematik hipotesis atas mana terapi didasarkan.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa terapi perilaku adalah suatu cara untuk mengubah atau mengatasi perilaku yang tidak adaptif. Biasanya dilakukan dengan cara operant conditioning, classical conditioning dan modelling.

Karakteristik terapi perilaku
Menurut Corey (dalam gunarsa, 2007) karakteristik pendekatan behavior antara lain:
-          Terapi perilaku didasarkan pada hasil eksperimen yang diperoleh dari pengalaman sistematik dasar-dasar teori belajar untuk membantu seseorang mengubah perilaku maladaptive.
-          Terapi ini memusatkan terhadap masalah yang dirasakabn pasien sekarang ini dan terhadap faktor yang mempengaruhi, sebagai sesuatu yang berlawanan, dimana ada hal-hal yang menentukan dalam sejarah perkembangan seseorang.
-          Terapi ini menitikberatkan perubahan perilaku sebagai kriteria utama, sehingga memungkinkan melakukan penilaian terhadap terapi meskipun proses kognitifnya tidak bisa diabaikan.
-          Terapi perilaku merumuskan tujuan terapi dalam terminologi kongkret dan objektif, agar memungkinkan dilakukan intervensi untuk mengulang apa yang dilakukan.
-          Terapi perilaku pada umumnya bersifat pendidikan.

Tujuan terapi perilaku
Tujuan umum terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif. Jika tingkah laku neurotik learned, maka ia bisa unlearned (dihapus dari ingatan), dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh.
Sedangkan tujuan terapi perilaku dengan orientasi ke arah kegiatan konseling, menurut George & Cristiani (dalam Gunarsa, 2007) adalah :
1)        Mengubah perilaku malasuai (maladaptif) pada klien.
2)        Membantu klien belajar dalam proses pengambilan keputusan secara lebih efesien.
3)        Mencegah munculnya masalah dikemudian hari.
4)        Memecahkan masalah perilaku khusus yang diminta oleh klien.
5)        Mencapai perubahan perilaku yang dapat dipakai dalam kegiatan kehidupannya.

Fungsi dan peran terapis
Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang baru dan adjustive.

Teknik terapi perilaku
1)      Desensitisasi sistematik dipandang sebagai proses deconditioning atau counterconditioning. Prosedurnya adalah memasukkan suatu respons yang bertentangan dengan kecemasan, seperti relaksasi. Individu belajar untuk relaks dalam situasi yang sebelumnya menimbulkan kecemasan.
2)      Flooding adalah prosedur terapi perilaku di mana orang yang ketakutan memaparkan dirinya sendiri dengan apa yang membuatnya takut, secara nyata atau khayal, untuk periode waktu yang cukup panjang tanpa kesempatan meloloskan diri.
3)      Penguatan sistematis (systematic reinforcement) didasarkan atas prinsip operan, yang disertai pemadaman respons yang tidak diharapkan. Pengkondisian operan disertai pemberian hadiah untuk respons yang diharapkan dan tidak memberikan hadiah untuk respons yang tidak diharapkan.
4)      Pemodelan (modeling) yaitu mencontohkan dengan menggunakan belajar observasionnal. Cara ini sangat efektif untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan, karena memberikan kesempatan kepada klien untuk mengamati orang lain mengalami situasi penimbul kecemasan tanpa menjadi terluka. Pemodelan lazimnya disertai dengan pengulangan perilaku dengan permainan simulasi (role-playing).
5)      Regulasi diri melibatkan pemantauan dan pengamatan perilaku diri sendiri, pengendalian atas kondisi stimulus, dan mengembangkan respons bertentangan untuk mengubah perilaku maladaptif.

Kasus Terapi Perilaku
Seorang mahasiswa berinisial F, sangat takut sekali dengan ondel-ondel. Setiap melihat sosok ondel-ondel, F selalu ketakutan dan jika bertemu di tengah jalan, dia pasti langsung berlari. Suatu saat F bertemu ondel-ondel di tengah jalan ketika dia sedang mengemudikan kendaraan roda empatnya, F kemudian mengencangkan volume musik di mobilnya karna takut mendengar musik pengiring ondel-ondel tersebut, F juga sesekali berteriak ketakutan jika semakin dekat dengan kelompok ondel-ondel dan semakin kencang pula suara F ketika menjerit. F ingin putar balik menghindari kelompok ondel-ondel tersebut namun keadaan saat itu kendaraan F sedang berada di jalan yang sempit dan ramai. Akhirnya F terpaksa melewati kelompok ondel-ondel tersebut dengan mengendarai mobil dengan kencang.
Dari kasus yang kelompok kami ambil diatas, kasus tersebut dapat ditangani dengan menggunakan terapi perilaku. Di dalam terapi perilaku memiliki beberapa teknik yang bertujuan masing-masing sesuai dengan gangguan yang klien derita. Berdasarkan kasus diatas dalam terapi perilaku dapat digunakan dengan teknik desentisasi sistematis. Desentisasi sistematis adalah jenis terpai perilaku yang digunakan dalam bidang psikologis untuk membantu secara efektif mengatasi fobia dan gangguan kecemasan lainnya. Tujuan dari proses ini adalah bahwa seorang individu akan belajar untuk menghadapi dan mengatasi fobianya yang kemudian mampu mengatasi rasa takut dalam fobianya.
Pertama yang akan dilakukan oleh terapis adalah terapis menganalisis perilaku klien mengenai ketakutannya pada ondel-ondel. Kemudian terapis menyusun hierarkhi atau jenjang-jenjang situasi yang menimbulkan ketakutan klien pada ondel-ondel. Dimana disusun dimulai dari yang kurang hingga yang paling mencemaskan klien. Lalu, terapis memberi latihan-latihan relaksasi otot-otot yang dimulai dari lengan hingga otot kaki. Kaki klien diletakkan di atas bantal atau kain wool. Secara terinci relaksasi otot dimulai dari lengan, kepala, kemudian leher dan bahu, bagian belakang, perut dan dada, dan kemudian anggota bagian bawah. Setelah itu, klien diminta membayangkan situasi yang menyenangkannya seperti di pantai, di tengah taman yang hijau dan lain-lain. Lalu klien disuruh memejamkan mata, kemudian disuruh membayangkan situasi yang kurang mencemaskan seperti bila klien sanggup tanpa cemas atau gelisah, berarti situasi tersebut dapat diatasi klien. Demikian seterusnya hingga ke situasi yang paling mencemaskan. Bila pada suatu situasi klien merasa cemas/gelisah, terapis meminta klien agar membayangkan situasi yang menyenangkan tadi untuk menghilangkan rasa kecemasan/ketakutan yang baru saja terjadi dan terapis menyusun hierarki atau jenjang kecemasan harus bersama klien, dan konselor menuliskannya pada selembar kertas.

Daftar pustaka:
Davidson, G.C., Neale, J.M., kring A.M. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada
Gerald Corey. 2009. Konseling dan Psikoterapi,  Refika Aditama, Bandung
Gunarsa, Singgih D. 2007. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Howland, Rebecca. 1997. Psikiatri. Alih Bahasa: R.F Maulany. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Michel Hersen, Encyclopedia of Psychotherapy, Pacific University, Forest Grove, Oregon. AP.
Windy Dryden, Developments  in  Psychotherapy, SAGE Publications Ltd, 2006, London.